Setiap tanggal 10 September, dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran bahwa bunuh diri dapat dicegah dan setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih mendukung.
Pada tahun 2026, tema global yang diangkat adalah "Changing the Narrative on Suicide" atau Mengubah Narasi tentang Bunuh Diri, dengan ajakan "Start the Conversation" - memulai percakapan yang terbuka, penuh empati, dan bebas stigma.
Salah satu ruang yang perlu mendapatkan perhatian adalah media sosial. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana untuk terhubung dan mendapatkan dukungan. Namun, lingkungan digital juga dapat menjadi tempat terjadinya perundungan siber (cyberbullying), penghinaan, pelecehan, penyebaran konten yang menyakiti, hingga kekerasan secara verbal yang dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. WHO mencatat bahwa lingkungan digital dapat menghadirkan risiko seperti kekerasan daring, cyberbullying, isolasi, serta dampak lain terhadap kesehatan mental.
Jempol kita punya dampak. Komentar yang dianggap bercanda oleh seseorang mungkin terasa sangat menyakitkan bagi orang lain.
Mari bersama-sama menghentikan kekerasan di media sosial dengan cara:
- Pikirkan sebelum mengetik
Hindari komentar yang menghina fisik, kondisi pribadi, keluarga, pekerjaan, atau kehidupan seseorang.
- Jangan ikut menyebarkan perundungan
Jangan memberikan like, komentar, atau membagikan konten yang mempermalukan atau merendahkan orang lain.
- Gunakan fitur blokir dan laporkan
Jika menemukan akun atau konten yang melakukan pelecehan dan perundungan, manfaatkan fitur block, mute, atau report pada platform terkait.
- Jangan mempermalukan seseorang di ruang publik
Masalah pribadi sebaiknya tidak dijadikan tontonan atau bahan candaan di media sosial.
- Berikan dukungan, bukan penghakiman
Ketika seseorang terlihat sedang mengalami masalah, cobalah hadir untuk mendengarkan tanpa langsung menyalahkan atau menghakimi.
Tidak semua orang yang sedang mengalami tekanan mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Karena itu, mari belajar menjadi seseorang yang mau mendengar.
Kalimat sederhana seperti:
"Kamu baik-baik saja?"
"Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan."
"Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian."
dapat menjadi awal dari percakapan yang lebih terbuka.
WHO menekankan bahwa dukungan emosional pada waktu yang tepat dapat membantu pencegahan bunuh diri.
Jangan menertawakan, menyalahkan, atau menyebarkan ceritanya.
Dengarkan. Dampingi. Ajak mencari bantuan.
Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi krisis atau mengungkapkan keinginan untuk menyakiti dirinya, jangan dibiarkan sendirian. Ajak berbicara dengan orang yang dipercaya dan bantu mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan atau layanan kesehatan terdekat.
Pencegahan bunuh diri bukan hanya tentang apa yang dilakukan tenaga kesehatan. Keluarga, teman, sekolah, tempat kerja, komunitas, dan pengguna media sosial semuanya dapat berperan.
Mari ubah cara kita berkomunikasi:
- Dari menghina - menjadi menghargai
- Dari menghakimi - menjadi memahami
- Dari menyebarkan aib -' menjadi menjaga privasi
- Dari ikut membully - menjadi berani menghentikan
- Dari diam - menjadi mau mendengarkan
Karena satu komentar bisa menyakiti, tetapi satu dukungan juga bisa berarti.
Momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September menjadi pengingat bahwa kita perlu membangun lingkungan yang membuat setiap orang merasa aman untuk bercerita, didengar, dan mendapatkan bantuan.
Jangan jadikan media sosial sebagai tempat untuk menyakiti. Jadikan ruang digital sebagai tempat untuk saling mendukung.
- Bijak bermedia sosial.
- Jaga ucapan.
- Dengarkan tanpa menghakimi.
- Berani menghentikan kekerasan.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini